Kamis, 05 Desember 2013

29 Warga RT 23 RW.03, Penkase- Oeleta kota Kupang, SANGAT BUTUH AIR MINUM !



jon suek foto
Jon Suek
“ Jarak pipa Induk dari tempat tinggal kami hanya sekitar 20 meter, jika pihak pemerintah kota mau perhatikan kami, maka terntu kami sudah mendapat pelayanan air bersih. Untuk minum saja kami tak mampu, apalagi untuk cuci,mandi dan bercocok tanam,” hal ini di ungkapkan oleh Jon Suek dan Niko Ese, mewakili 29 keluarga yang tinggal di Wilayah RT 29 Warga RT 23 RW.03.Kelurahan Penkase-Oeleta nKota Kupang, saat ditemui Wartawan Exodus Pos, beberapa waktu lalu, tepatnya di Lokasi tempat kebun sayur dan  Lombok milik mereka.

Lewat tabloid ini, warga RT 29 Kelurahan Penkase-Oeleta, yang berjumlah 29 Keluarga dengan jumlah jiwa berkisar 100 orang itu mengatakan, selama ini mereka membeli air tanki seharga 75 ribu per tanki, dan dalam sebulan, setiap keluarga membutuhkan 2 tanki air. Hal ini menurut mereka sangat memberatkan karena rata-rata mereka hanya bekerja sebagai buruh dan pedagang sayur.

ese foto
Niko Ese
Kata mereka, 2 tanki air yang dibeli tiap bulan hanya bisa mencukupi untuk minum dan MCK, dan apabila digunakan untuk kebutuhan minum hewan peliharaan serta tanaman Lombok dan sayuran yang ada maka tidak cukup. Dan oleh karena itu banyak tumbuhan sayur dan hewan peliharaan mereka yang mati kekeringan, padahal hewan dan tumbuhan tersebut untuk dijual menjawab kebutuhan sekolah anak-anak mereka serta kebutuhan makan dan minum keseharian mereka.

Menurut pengakuan Jon Suek dan Niko Ese, yang juga adalah petani sayur serta permeliharaan babi dan ayam, mengatakan, untuk memperbaiki ekonomi keluarga, maka bersama beberapa keluarga mereka melakukan usaha tanam Lombok dan pelihara hewan, namun mereka selalu mengalami kebangkrutan akibat kekurangan air untuk menyirami dan memberi minum pada hewan-hewan mereka.

ADA MATA AIR DILOKASI WARGA, PEMERINTAH BISA GUNAKANNYA
Jon dan Niko mengatakan bahwa, menurut penelitian suatu lembaga pencaharian titik mata air milik perusahan asing, maka dilokasi mereka itu terdapat mata air yang cukup besar, oleh karena itu, mereka sangat mengharapkan bantuan dan dukungan pemerintah kota Kupang untuk menggali titik air yang ada di wilayah tersebut, guna bisa menjawab kebutuhan warga yang hampir semuanya berusaha tanaman Lombok dan sayur guna bisa memperbaiki kebutuhan hidup ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. “ Jika mata air tersebut memiliki debit yang besar maka tentu bisa di-alirkan ke wilayah lain yang masih sangat membutuhkan air bersih,” ucap Niko dengan nada serius.
 
Jon mengaku, dalam seminggu, untuk menyirami tanaman dan minuman bagi hewan peliharaan yang ada, mereka membeli 4 tanki air. Dan jika tanki berhalangan mengisi dalam seminggu maka tanaman mereka langsung kering dan ada yang mati, hal ini sangat memprihatinkan, sebab mereka harus memulai tanam dari awal, padahal usaha ini sudah 2 tahun lebih membantu kehidupan keluarga mereka.

Menurut Niko Ese, jalan masuk ke perkampungan itu pun masih kendala sehingga banyak mobil tanki yang enggan masuk ke wilayah itu. Jika tanki tidak masuk membawa air, maka untuk minum pun mereka amat sulit mendapatinya. Oleh karena itu, mewakili puluhan keluarga, dia mengharapkan perhatian serius dari pemerintah Kota Kupang, untuk pembuatan jalan serta adanya jaringan pipa ke rumah-rumah penduduk yang berjumlah 29 keluarga itu.

ADA USAHA PRODUKTIF TAPI BELUM TERBANTU DANA PEMBERDAYAAN.

Mewakili puluhan Keluarga, Jon dan Niko, mengatakan, sudah lama warga dilokasi itu berusaha secara mandiri dibidang tenaman Lombok, pemeliharaan babi dan ayam, namjun belum diberikan bantuan dana nusahja oleh pihak poewmerintah kota Kupang, padahal menurut mereka, ada banyak bantuan-bantuan poemberdayaan yang diberikan pemerintah tetapi belum menyentuh warga yang ada di lokasi tersebut. Hal ini menurut mereka sepertinya ada tembang pilih dalam memberikan bantuan pemberdayaan.

Kata mereka, seharusnya mereka diberikan kesempatan mengelolah usaha tanaman Lombok dan pemeliharaan hewan dengan bantuan dana yang ada dipemerintahan sehingga usaha mereka bisa berkembang lebih maju lagi. Kata mereka, pihaknya sudah melakukan pendekatan-pendekatan ke pemerintah kelurahan akan tetapi katanya Dana-dana tersebut sudah direalisasi pada kielompok lain sehingga mereka harus menunggu pada tahap yang lain.
 
Kepada pemerintah Kota Kupang, warga mengharapkan, adanya perhatian serius untuk pelayanan air bersih, penerangan jalan bagi mereka dan juga pembuatan jalan masuk kedalam perkampungan warga, sehingga memudahkan warga dalam upaya-upaya memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga dan warga pun bisa keluar dari kesulitan yang dialami bertahun-tahun ini.

Jon dan Niko mengakui, memang sebagai tahap awal, semua warga telah mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli tanah putih sebagai urukan awal jalan masuk kedalam perkampungan tetapi belumlah nampak baik. Warga juga mendapat bantuan dari donator tanah putih dari bapak OT HORO, namun juga terasa belum menjawab kebutuhan akan suatu jalan yang memadai, sehingga perlu campur tangan pemerintah kota Kupang agar jalan tersebut bisa menjadi layak dan memadai.   “ Jika Pemerintah tidak memperhatikan kami, maka kepada siapa lagi kami harus mengadu ? ,” ucap Jon mengakhiri pembicaraannya. ( ExPos.002).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar