| Jon Suek |
“ Jarak
pipa Induk dari tempat tinggal kami hanya sekitar 20 meter, jika pihak
pemerintah kota mau perhatikan kami, maka terntu kami sudah mendapat pelayanan
air bersih. Untuk minum saja kami tak mampu, apalagi untuk cuci,mandi dan
bercocok tanam,”
hal ini di ungkapkan oleh Jon Suek dan Niko Ese, mewakili 29 keluarga yang
tinggal di Wilayah RT 29 Warga RT 23 RW.03.Kelurahan Penkase-Oeleta nKota Kupang, saat ditemui
Wartawan Exodus Pos, beberapa waktu lalu, tepatnya di Lokasi tempat kebun sayur
dan Lombok milik mereka.
Lewat tabloid ini, warga RT 29 Kelurahan
Penkase-Oeleta, yang berjumlah 29 Keluarga dengan jumlah jiwa berkisar 100
orang itu mengatakan, selama ini mereka membeli air tanki seharga 75 ribu per
tanki, dan dalam sebulan, setiap keluarga membutuhkan 2 tanki air. Hal ini
menurut mereka sangat memberatkan karena rata-rata mereka hanya bekerja sebagai
buruh dan pedagang sayur.
| Niko Ese |
Kata mereka, 2 tanki air yang dibeli tiap
bulan hanya bisa mencukupi untuk minum dan MCK, dan apabila digunakan untuk
kebutuhan minum hewan peliharaan serta tanaman Lombok dan sayuran yang ada maka
tidak cukup. Dan oleh karena itu banyak tumbuhan sayur dan hewan peliharaan
mereka yang mati kekeringan, padahal hewan dan tumbuhan tersebut untuk dijual
menjawab kebutuhan sekolah anak-anak mereka serta kebutuhan makan dan minum
keseharian mereka.
Menurut pengakuan Jon Suek dan Niko Ese, yang
juga adalah petani sayur serta permeliharaan babi dan ayam, mengatakan, untuk
memperbaiki ekonomi keluarga, maka bersama beberapa keluarga mereka melakukan usaha
tanam Lombok dan pelihara hewan, namun mereka selalu mengalami kebangkrutan
akibat kekurangan air untuk menyirami dan memberi minum pada hewan-hewan mereka.
ADA MATA AIR DILOKASI WARGA, PEMERINTAH BISA GUNAKANNYA
Jon dan Niko mengatakan bahwa, menurut
penelitian suatu lembaga pencaharian titik mata air milik perusahan asing, maka
dilokasi mereka itu terdapat mata air yang cukup besar, oleh karena itu, mereka
sangat mengharapkan bantuan dan dukungan pemerintah kota Kupang untuk menggali titik
air yang ada di wilayah tersebut, guna bisa menjawab kebutuhan warga yang
hampir semuanya berusaha tanaman Lombok dan sayur guna bisa memperbaiki
kebutuhan hidup ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. “ Jika mata air tersebut memiliki debit
yang besar maka tentu bisa di-alirkan ke wilayah lain yang masih sangat membutuhkan
air bersih,” ucap Niko dengan nada serius.
Jon mengaku, dalam seminggu, untuk menyirami
tanaman dan minuman bagi hewan peliharaan yang ada, mereka membeli 4 tanki air.
Dan jika tanki berhalangan mengisi dalam seminggu maka tanaman mereka langsung
kering dan ada yang mati, hal ini sangat memprihatinkan, sebab mereka harus
memulai tanam dari awal, padahal usaha ini sudah 2 tahun lebih membantu
kehidupan keluarga mereka.
Menurut Niko Ese, jalan masuk ke perkampungan
itu pun masih kendala sehingga banyak mobil tanki yang enggan masuk ke wilayah
itu. Jika tanki tidak masuk membawa air, maka untuk minum pun mereka amat sulit
mendapatinya. Oleh karena itu, mewakili puluhan keluarga, dia mengharapkan
perhatian serius dari pemerintah Kota Kupang, untuk pembuatan jalan serta
adanya jaringan pipa ke rumah-rumah penduduk yang berjumlah 29 keluarga itu.
ADA
USAHA PRODUKTIF TAPI BELUM TERBANTU DANA PEMBERDAYAAN.
Mewakili puluhan Keluarga, Jon dan Niko,
mengatakan, sudah lama warga dilokasi itu berusaha secara mandiri dibidang
tenaman Lombok, pemeliharaan babi dan ayam, namjun belum diberikan bantuan dana
nusahja oleh pihak poewmerintah kota Kupang, padahal menurut mereka, ada banyak
bantuan-bantuan poemberdayaan yang diberikan pemerintah tetapi belum menyentuh
warga yang ada di lokasi tersebut. Hal ini menurut mereka sepertinya ada
tembang pilih dalam memberikan bantuan pemberdayaan.
Kata mereka, seharusnya mereka diberikan
kesempatan mengelolah usaha tanaman Lombok dan pemeliharaan hewan dengan
bantuan dana yang ada dipemerintahan sehingga usaha mereka bisa berkembang
lebih maju lagi. Kata mereka, pihaknya sudah melakukan pendekatan-pendekatan ke
pemerintah kelurahan akan tetapi katanya Dana-dana tersebut sudah direalisasi pada
kielompok lain sehingga mereka harus menunggu pada tahap yang lain.
Kepada pemerintah Kota Kupang, warga
mengharapkan, adanya perhatian serius untuk pelayanan air bersih, penerangan
jalan bagi mereka dan juga pembuatan jalan masuk kedalam perkampungan warga,
sehingga memudahkan warga dalam upaya-upaya memperbaiki kehidupan ekonomi
keluarga dan warga pun bisa keluar dari kesulitan yang dialami bertahun-tahun
ini.
Jon dan Niko mengakui, memang sebagai tahap
awal, semua warga telah mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli
tanah putih sebagai urukan awal jalan masuk kedalam perkampungan tetapi
belumlah nampak baik. Warga juga mendapat bantuan dari donator tanah putih dari
bapak OT HORO, namun juga terasa belum menjawab kebutuhan akan suatu jalan yang
memadai, sehingga perlu campur tangan pemerintah kota Kupang agar jalan
tersebut bisa menjadi layak dan memadai. “ Jika
Pemerintah tidak memperhatikan kami, maka kepada siapa lagi kami harus mengadu
? ,” ucap Jon mengakhiri pembicaraannya. ( ExPos.002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar