Sabtu, 17 Agustus 2013

SOAL RAKYAT MEMILIH CALEG PADA PILEG 2014


SOAL RAKYAT MEMILIH CALEG PADA PILEG 2014
JANGAN PILIH CALEG KARENA UANG ATAU BARANG !

FOTO PETRUS     Banyak caleg kita mulai gerilia kepelosok-pelosok  kota maupun desa-desa terpencil dengan alasan perkenalan diri  pada masyarakat alias silahturami kekeluargaan padahal sekian lama dia tak pernah mengunjungi keluarganya walaupun keluarganya sangat membutuhkan bantuannya. Dalam kunjungan itu sang caleg  mulai memainkan jurus-jurus keprihatianan atas derita yang dialami oleh rakyat kecil.
     Dan atas nama keprihatinan itulah sang caleg memberikan bantuan-bantuan berupa uang, sembako, beasiswa, bahkan ada juga yang memberikan bantuan berupa barang bangunan.
     Ada caleg yang memberikan data-data agar masyarakat mengisinya guna akan mendapat bantuan beasiswa, padahal urusan beasiswa adalah urusan pemerintah lewat dinas PPO pluss Kementerian Pendidikan Nasional.
     Anehpun terbetik dihati masyarakat bahwa kalau sang caleg sudah bisa berikan beasiswa kenapa harus susah-susah mengikuti seleksi dan aturan dari pihak sekolah ?. Hal ini tentu akan menyulitkan pihak sekolah untuk menentukan siswanya yang benar-benar berhak dapat beasiswa sesuai Kriteria yang benar berdasarkan aturan pemerintah.
     Ketika sang caleg memberikan bantuan, ia mengatakan bantuan ini adalah sumbangan dari hati nuraninya karena memiliki kelebihan dalam usaha dan pekerjaannya. Sang caleg yang dulunya mungkin sangat kikir tiba-tiba mendadak jadi dermawan. Rakyat yang tidak cerdas berpikir mulai terkecok dengan jurus-jurus sang caleg lalu langsung jatuhkan vonis bahwa sang caleg adalah orang yang baik karena sebelun jadi DPR saja telah berbuat baik, maka apabila jadi DPR maka tentunya dia akan berbuat lebih baik lagi.
     Jika rakyat menerima bantuan itu maka dengan sendirinya ia telah menggadaikan harga dirinya dengan uang atau barang. Martabatnya sebagai rakyat yang berdaulat terkoyak-moyak  oleh materi yang diberikan oleh sang caleg atas nama kerihatinan tersebut, lalu pada saat pemilu nanti ia memilih sang caleg itu.
Setelah pemilu tersebut maka hubungan antara keduanyapun putus karena telah dibayar derngan uang. Uang atau barang yang tidak seberapa telah membuat sang caleg memperoleh jabatan Politik sebagai wakil rakyat alias DPR. Hubungannya dengan rakyat tersebut terputus selama 5 tahun masa jabatan politiknya sebab tak mungkin dia akan serius perjuangkan kepentingan rakyat karena suara rakyat telah dibayar lunas dengan uang yang sedikit itu.
     Setelah jadi DPR, sang caleg dulu mulai obrak-abrik sana-sini memakai jurus pamungkasnya yakni tekan sana-tekan sini agar memperoleh uang banyak menutupi utang-utangnya saat memainkan jurus keprihatinan dulu yang dibuat pada masyarakat.
     Sang Caleg yang sudah jadi DPR mulai duduk manis dalam mobil mewah dengan kaca gelap tertutup sambil  melewati rumah warga yang telah memilihnya dulu. Sang DPR itu tidak merasa utang budi pada rakyatnya  dan tidak merasa malu duduk dalam mobil sambil melihat warganya yang sedang memikul sampah bekas disampingnya.
     Kenapa ini terjadi ?, karena rakyat telah menjual suaranya dengan murah, kontrak  politik  antara rakyat dan dirinya pun berhenti setelah habis pencoblosan.
    Sang DPR tidak merasa malu duduk diatas mobil mewah harga ratusan juta, sementara rakyatnya masih hidup didalam gubuk yang hampir roboh. Untuk membuat rumah seharga 5 juta saja rakyatnya tidak mampu tetapi sang DPR mampu membeli mobil mewah seharga ratusan juta rupih. Ini artinya jabatan politik dibayar mahal tetapi martabat rakyat dibeli murah.
     Jika masyarakat ingin martabatnya dihormati  maka pada Pemilu 2014 nanti janganlah memilih caleg karena uang atau barang sebab nanti hubungan rakyat dengan sang DPR akan terputus selama 5 tahun. Artinya kita akan susah terus selama 5 tahun sementara dalam 5 tahun itu sang DPR yang kita pilih hanya menonton derita kita.
Selamat menyongsong pemilu 2014. Pilih caleg jangan karena uang atau barang sebab hal itu akan merendahkan martabat kita sebagai rakyat yang memiliki kedaulatan.
REDAKSI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar