Selasa, 22 Oktober 2013

SITI ROHANIAH KAMIS, S.Ag. KAPAN NASIB PARA PEMULUNG BISA BEROBAH ?



foto siti R“ Sebagai pekerja sosial masyarakat yang tinggal bersebelahan degan para pemulung, hati saya sangat terpukul melihat penderitaan yang mereka alami setiap harinya. Sambil menangis menahan lapar, anak-anak pemulung itu berjalan dengan lemas mengikuti orangtuanya memungut sampah-sampah bekas dipinggiran jalan sepanjang jalan dari osmok menuju tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang lokasinya di penghujung kelurahan alak”. Ucapan prihatin ini dikatakan oleh Siti Rohaniah Kamis, S.Ag, yang juga guru Ngaji pada TK Angkatan Laut Osmok, ketika ditemui wartawan Exodus Pos, beberapoa waktu lalu.

Kepada Tabloid ini, Siti yang puluhan tahun bekerja sebagai penyalur tenaga bagi pencari kerja pembantu rumah tangga ini, mengatakan, sepertinya pemerintah kita menutup mata dengan permasalahan kemiskinan yang di alami masyarakat, terlebih yang dialami oleh puluhan keluarga pemulung diwilayah osmok kelurahan Namosain  Tak satupun anggota DPRD Kota Kupang  ataupun pejabat Pemerintah Kota yang pernah turun langsung melihat kehidupan para pemulung sehingga persoalan yang iderita para pemulung tak poernah ada yang peduli. Tahun ke tahun mereka tetap hidup dalam penderitaan tanpa ada harapan untuk bangkit, apalagi bermimpi untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Menurut Siti, jika pemerintah dan DPRD kita mau sedikit menaruh kepedulian pada mereka, maka dirinya yakin nasib para pemulung tersebut  pasti akan berobah menuju hidup yang labih layak. “ Mereka hidup dalam gubuk-gubuk berdinding gardus dan beralaskan kain kumal sebagai tempat tidur.  Kalau Hujan, pasti tembus dan mengena mereka. Pemerintah dan DPRD kita harus menolong mereka, sebab mereka juga adalah rakyat kota Kupang”. Ucap Siti dengan wajah penuh harap.

Lewat Tabloid ini, Siti berharap, semoga pemerintah kita serius memperhatikan masalah yang dialami para pemulung tersebut. Katanya, jangan saat mau menjadi Caleg atau kandidat Walikota, para calon pemimpin dan caleg  bicara banyak penuh janji untuk memperhatikan nasib orang kecil, lalu setelah jadi dan menduduki kursi terhormat, mereka melupakan janji-janji tersebut. Nasib para pemulung yang terlihat sangat menderita selama bertahun-tahun ini menjadi bukti bahwa para pemimpin dan wakil rakyat kita belum maksimal mengurus rakyat kecil.

Siti menambahkan, sebenarnya pemerintah kita tahu bagaimana caranya mengelolah sampah bekas secara professional dan mendatangkan pendapatan ekonomi yang baik bagi masyarakat. Para pemulung harusnya diberikan pelatihan tentang pengelolahan sampah terpadu sehingga mereka tidak hidup terus menerus seperti itu, yakni hanya memilih sampah lalu di timbanmg untuk membeli beras. Harga 1 kilogram kardus dan gelas aqua berkisar 500 sampai 700 rupiah. Jika tidak mendapati sampah diatas 10 kilogram, maka para pemulung harus menahan lapar sebab pendapatan tidak mencukupi untuk membeli satu kilogram beras. Sangat memilukan nasib anak-anak mereka. “ Di bali dan jawa, para pemulung diberikan pelatihan tentang penglolahan sampah dan kini meraka telah berhasil menjadi pengusaha yang cukup kaya. Perusahan mereka berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Kenapa di Kupang para pemulung tersebut tidak bisa didorong menjadi pengusaha sampah ?”. Tandas Siti serius.

Siti mengakui, kalau dirinya memiliki kuasa sebagai pemimpin, tentunya dia akan dengan sekuat kemampauan yang ada, akan berjuang memperbaiki hidup para pemulung tersebut, sebab dirinya tak tega menyaksikan penderitaan mereka dengan mata sendiri. “ Rumah kami bersebelahan dengan keluarga para pemulung, kami tahu persis apa yang diderita mereka, kami ingin membantu tapi hidup kami juga pas-pasan. Kalau ada kelebihan tentu kami berikan pada mereka, tapi kalau tidak ada kelebihan, kami hanya menonton derita mareka sambil berdoa, agar Tuhan menggerakkan hati para pemimpin dan wakil rakyat kita untuk menolong mereka keluar dari kesulitan hidup yang di alaminya,” ucap Siti dengan wajah sedih.

Siti yang bersuamikan seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Kupang itu mengkhiri pembicaraannya, manusia di ciptakan untuk saling menolong dan berbuat baik bagi sesamanya, inilah Amanah kehidupan manusia. Jika membiarkan sebagian manusia lain hidup dalam kemiskinan terus-menerus, maka kita tidak layak di mata Tuhan Sang Pencipta. Dan jika, para pemimpin dan wakil rakyat kita menutuip mata dengan nasib para pemulung ini, mereka tidak layak menjadi pemimpin dan wakil rakyat. ( Expos.03).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar