Kepada Tabloid ini, Siti yang puluhan tahun
bekerja sebagai penyalur tenaga bagi pencari kerja pembantu rumah tangga ini,
mengatakan, sepertinya pemerintah kita menutup mata dengan permasalahan
kemiskinan yang di alami masyarakat, terlebih yang dialami oleh puluhan
keluarga pemulung diwilayah osmok kelurahan Namosain Tak satupun anggota DPRD Kota Kupang ataupun pejabat Pemerintah Kota yang pernah
turun langsung melihat kehidupan para pemulung sehingga persoalan yang iderita
para pemulung tak poernah ada yang peduli. Tahun ke tahun mereka tetap hidup
dalam penderitaan tanpa ada harapan untuk bangkit, apalagi bermimpi untuk
menyekolahkan anak-anak mereka.
Menurut Siti, jika pemerintah dan DPRD kita mau
sedikit menaruh kepedulian pada mereka, maka dirinya yakin nasib para pemulung
tersebut pasti akan berobah menuju hidup
yang labih layak. “ Mereka hidup dalam
gubuk-gubuk berdinding gardus dan beralaskan kain kumal sebagai tempat
tidur. Kalau Hujan, pasti tembus dan
mengena mereka. Pemerintah dan DPRD kita harus menolong mereka, sebab mereka
juga adalah rakyat kota Kupang”. Ucap Siti dengan wajah penuh harap.
Lewat Tabloid ini, Siti berharap, semoga pemerintah
kita serius memperhatikan masalah yang dialami para pemulung tersebut. Katanya,
jangan saat mau menjadi Caleg atau kandidat Walikota, para calon pemimpin dan
caleg bicara banyak penuh janji untuk
memperhatikan nasib orang kecil, lalu setelah jadi dan menduduki kursi
terhormat, mereka melupakan janji-janji tersebut. Nasib para pemulung yang
terlihat sangat menderita selama bertahun-tahun ini menjadi bukti bahwa para
pemimpin dan wakil rakyat kita belum maksimal mengurus rakyat kecil.
Siti menambahkan, sebenarnya pemerintah kita
tahu bagaimana caranya mengelolah sampah bekas secara professional dan
mendatangkan pendapatan ekonomi yang baik bagi masyarakat. Para pemulung
harusnya diberikan pelatihan tentang pengelolahan sampah terpadu sehingga
mereka tidak hidup terus menerus seperti itu, yakni hanya memilih sampah lalu
di timbanmg untuk membeli beras. Harga 1 kilogram kardus dan gelas aqua
berkisar 500 sampai 700 rupiah. Jika tidak mendapati sampah diatas 10 kilogram,
maka para pemulung harus menahan lapar sebab pendapatan tidak mencukupi untuk
membeli satu kilogram beras. Sangat memilukan nasib anak-anak mereka. “ Di bali dan jawa, para pemulung diberikan
pelatihan tentang penglolahan sampah dan kini meraka telah berhasil menjadi
pengusaha yang cukup kaya. Perusahan mereka berkembang dan mampu menyerap
banyak tenaga kerja. Kenapa di Kupang para pemulung tersebut tidak bisa
didorong menjadi pengusaha sampah ?”. Tandas Siti serius.
Siti mengakui, kalau dirinya memiliki kuasa sebagai
pemimpin, tentunya dia akan dengan sekuat kemampauan yang ada, akan berjuang
memperbaiki hidup para pemulung tersebut, sebab dirinya tak tega menyaksikan
penderitaan mereka dengan mata sendiri. “
Rumah kami bersebelahan dengan keluarga para pemulung, kami tahu persis apa
yang diderita mereka, kami ingin membantu tapi hidup kami juga pas-pasan. Kalau
ada kelebihan tentu kami berikan pada mereka, tapi kalau tidak ada kelebihan,
kami hanya menonton derita mareka sambil berdoa, agar Tuhan menggerakkan hati
para pemimpin dan wakil rakyat kita untuk menolong mereka keluar dari kesulitan
hidup yang di alaminya,” ucap Siti dengan wajah sedih.
Siti yang bersuamikan seorang dosen di
Universitas Muhammadiyah Kupang itu mengkhiri pembicaraannya, manusia di
ciptakan untuk saling menolong dan berbuat baik bagi sesamanya, inilah Amanah
kehidupan manusia. Jika membiarkan sebagian manusia lain hidup dalam kemiskinan
terus-menerus, maka kita tidak layak di mata Tuhan Sang Pencipta. Dan jika,
para pemimpin dan wakil rakyat kita menutuip mata dengan nasib para pemulung
ini, mereka tidak layak menjadi pemimpin dan wakil rakyat. ( Expos.03).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar